Mode : my habit, tend to speak to the wall..
Sometimes, we just don't realize how we've hurt someone else.. Because there is no actual guide to take care of somebody's heart.. What we can do is think, before we shout something out of our damn gorgeous mouth.. It is not hard, we just have to use our brain.. But for whom whose brain are useless, my million dollar words here mean nothing..
P/s : Okay.. This has nothing to do with anyone out there but only my endless 'i-feel-bored' babbling.. Please take note that i'm having an ugly PMS here... Ciao..^^
Malam itu seperti malam yang sudah-sudah, pungguk itu bertenggek di sebatang pohon, menunggu turunnya si bulan. Sudah dia katakan pada sang bulan,
"Aku tetap akan di sini, walau seribu tahun sekali pun aku disuruh menanti. Selagi aku belum mati, selagi kau tidak memberi kata yang pasti."
Tapi bulan tetap di situ. Tiada kata yang pasti menyuruh si pungguk pergi. Hanya apabila malam tiba, pungguk bercakap dan dia menemani. Pungguk bergelak dan bulan mengiringi. Hari-hari, malahan berbulan-bulan pungguk mengulangi perkara yang sama.
Bagi pungguk, segalanya masih begitu kabur, kendur untuk dia simpulkan kesudahannya. Maka kerana itu dia masih tabah menanti cintanya disambut oleh bulan. Sang bulan pula semakin kerap bercerita tentang keindahan yang dipujanya. Tanpa bulan menyedari, dalam senyum si pungguk nyata hatinya menangis.
*Bukk!*
Sesuatu jatuh.
"Ah.. Sebiji epal?"
Si pungguk mendongak melihat pohon yang seringkali dia bertenggek itu. Rupa-rupanya ianya pohon epal. Tidak pernah si pungguk sedari yang tempat dia bertenggek, bersandar mencurahkan kesedihan cinta yang tak kunjung tiba itu ialah sepohon epal.
"Makanlah epal itu sayang. Kuberi yang paling ranum dan manis isinya untuk kau"
Pohon epal bersuara. Si pungguk melihat dalam-dalam ke matanya. Dapat dilihat kasih si pohon epal itu.
"Akan tetapi jika kau meragui aku, janganlah kau makan epal itu. Aku akan menanti hingga keraguan itu pudar dari hatimu."
Sambung si pohon epal, keikhlasan melantun dari lembut suaranya. Si pungguk menggigit epal yang jatuh ke ribaannya tadi. Manis sekali. Kerana manisnya epal, pungguk telah terlupakan lara di hatinya. Perlahan, nama bulan yang terukir di hatinya beransur-ansur hilang.
Masa berlalu dan si pungguk terus setia bertenggek di dahan sepohon epal. Tetapi kali ini bukan kerana menanti si bulan. Kali ini kerana menemani sepohon epal, tempatnya bersandar.


Posted in
pungguk[dan]epal