Mode : my habit, tend to speak to the wall..
P/s : Okay.. This has nothing to do with anyone out there but only my endless 'i-feel-bored' babbling.. Please take note that i'm having an ugly PMS here... Ciao..^^

From the last poem
which i have wrote in the sweet scent of summer..
These will never last,
our loneliness..
While sitting under a tree,
in a heavy downpour,
with an umbrella on me other hand..
from here i write a new one..
To the days when
we walk together
while holding each other hands..
Laughing violently
over each of funny thing we have seen.
Thus
our body are now thousands miles apart,
our heart seems to be not.
Remembering the days,
for now i have lose my warmth..
i am lying on the floor
without any feelings
only cold.
in this winter of sorrow,
without that other part of mine.
Yes,
i shall keep it as promised..
To keep walking and not stop by,
any road or street as i walk by..
Until the day we shall meet again.
03:11:45
Wednesday 9th|June|2010
Wednesday 30th |June|2010
it's a sudden
Posted in
nurcahaya
we think
we speak
we create
everyday,
nonstop
however
far behind our liberalized mind
we run from the fact.

we cover up the truth.
we ask ourself why.
we begin to search for lies.
we find the answer.
we finish in regret.
repeatedly
until we find ourself in the coffin of
dead.................................................................................................... end.
this is living.
[TSP : 9.54b]
Posted in
nurcahaya
"Aku tetap akan di sini, walau seribu tahun sekali pun aku disuruh menanti. Selagi aku belum mati, selagi kau tidak memberi kata yang pasti."
Tapi bulan tetap di situ. Tiada kata yang pasti menyuruh si pungguk pergi. Hanya apabila malam tiba, pungguk bercakap dan dia menemani. Pungguk bergelak dan bulan mengiringi. Hari-hari, malahan berbulan-bulan pungguk mengulangi perkara yang sama.
Bagi pungguk, segalanya masih begitu kabur, kendur untuk dia simpulkan kesudahannya. Maka kerana itu dia masih tabah menanti cintanya disambut oleh bulan. Sang bulan pula semakin kerap bercerita tentang keindahan yang dipujanya. Tanpa bulan menyedari, dalam senyum si pungguk nyata hatinya menangis.
*Bukk!*
Sesuatu jatuh.
"Ah.. Sebiji epal?"
Si pungguk mendongak melihat pohon yang seringkali dia bertenggek itu. Rupa-rupanya ianya pohon epal. Tidak pernah si pungguk sedari yang tempat dia bertenggek, bersandar mencurahkan kesedihan cinta yang tak kunjung tiba itu ialah sepohon epal.
"Makanlah epal itu sayang. Kuberi yang paling ranum dan manis isinya untuk kau"
Pohon epal bersuara. Si pungguk melihat dalam-dalam ke matanya. Dapat dilihat kasih si pohon epal itu.
"Akan tetapi jika kau meragui aku, janganlah kau makan epal itu. Aku akan menanti hingga keraguan itu pudar dari hatimu."
Sambung si pohon epal, keikhlasan melantun dari lembut suaranya. Si pungguk menggigit epal yang jatuh ke ribaannya tadi. Manis sekali. Kerana manisnya epal, pungguk telah terlupakan lara di hatinya. Perlahan, nama bulan yang terukir di hatinya beransur-ansur hilang.
Masa berlalu dan si pungguk terus setia bertenggek di dahan sepohon epal. Tetapi kali ini bukan kerana menanti si bulan. Kali ini kerana menemani sepohon epal, tempatnya bersandar.
Posted in
pungguk[dan]epal
dahulu, |
Posted in
nurcahaya
Subscribe to:
Posts (Atom)

